Orang-orang Lawu

 



Dengarlah suara bening dalam hatimu

Biarlah nuranimu berbicara

Lihatlah puncak gunung menjulang tinggi

Perkasa menghadapi badai hidup

 

(Kantata Samsara, Langgam Lawu)

 

4 Juli 2025,

Jelang Asar, dengan sepeda motor saya memulai perjalanan. Tak ada tujuan pasti, sebenarnya. Hanya ingin jelajah kawasan Lawu. Saya suka suasana pegunungan, dengan bentang alamnya yang hijau dan hawanya yang sejuk. Juga kampung-kampung sunyi di kaki dan lereng pegunungan, dan sungai-sungai yang mengalir jernih dari sumber-sumber mata air di daerah hulu. 

 

Dari Paron, titik awal keberangkatan, saya melajukan motor ke barat, arah Lawu. Sepanjang jalan yang saya lalui relatif lengang. Maklum, di kanan kiri jalan membentang persawahan yang sangat luas. Di Ngawi, padi ditanam sepanjang tahun, tanpa jeda. Karenanya Ngawi dikenal sebagai lumbung padi terbesar di Jawa Timur. Mereka menggunakan teknologi sibel (submersible pump) untuk mengairi sawah, terutama di musim kemarau. Teknologi ini berbiaya tinggi. Selain itu, penggunaannya secara masif berdampak pada penurunan muka air tanah, bahkan bisa mengakibatkan kekeringan. Masyarakat sebenarnya sudah mulai merasakan dampaknya -sumur-sumur di perkampungan semakin dalam, air tanah tidak bisa dinaikkan dengan menggunakan pompa air biasa, kecuali menggunakan sibel. Ada problem terkait keberlanjutan pertanian di Ngawi. Entah bagaimana dunia pertanian ke depan.

 

Jalan yang saya lalui cukup sempit, namun terasa lebar. Belum banyak permukiman di sepanjang jalan yang saya lalui, kecuali di beberapa titik tertentu.  Kalau pun berjajar rumah-rumah di pinggir jalan, jarak antara rumah dan tepi jalan cukup lebar,  tidak seperti kebanyakan rumah-rumah di Jawa Timur bagian timur yang umumnya hampir tidak menyisakan halaman, berimpitan dengan jalan. Jarak antar rumah pun cukup jauh, karena hampir tiap rumah memiliki pekarangan yang cukup luas. Mengutip Databoks -portal yang menyediakan data statistik ekonomi, bisnis, riset, migas, serta industri- tingkat kepadatan penduduk di Ngawi tahun 2024 cukup rendah, 905,66 ribu jiwa/km² dan menempati urutan ke 23 dari 38 kabupaten di Jawa Timur.[i]

 

Saya tidak menggunakan teknologi GPS, dan belum pernah menggunakannya. Selain tak ada tujuan pasti, juga saya menolak didikte. Layaknya sebuah riset, bekerja secara grounded tentu jauh lebih menantang. Setelah berjalan kisaran 20-an kilometer, di pertigaan Jogorogo, saya dihadapkan pada dua pilihan: belok kiri atau lurus. Ke kiri ke arah Kendal dan Magetan. Jika lurus dan selanjutnya nyerong ke kanan ke arah Sine, kecamatan paling barat Ngawi yang beririsan dengan Kabupaten Karanganyar dan Sragen. Saya tidak perlu memanfaatkan mesin pencari untuk mencari objek-objek apa yang menarik di sepanjang jalan yang berbeda arah itu.

 

Saya memilih berjalan lurus lalu belok kanan, arah Ngrambe-Sine. Di sepanjang jalan Ngrambe-Sine, setelah sempat naik ke arah perkebunan teh Jamus tapi urung, di jalanan yang berkelok dan menanjak, persis di jembatan Baron, Ngrambe, saya melihat beberapa laki-laki dan seorang perempuan paruh baya berjalan membawa tongkat, dengan tas-tas ransel di punggung dan  topi caping pak tani sebagai penutup kepala. Suara tongkat-tongkat yang menyentuh aspal jalan menimbulkan suara yang seperti berirama: tek-tok-tek-tok. Mereka bak musafir, dan sepertinya telah melakukan perjalanan jauh. Langkahnya sedikit tertatih. Wajahnya kusam oleh keringat. Saya hanya melihat, namun tak menyapa mereka. Saya terus saja. Tapi setelah beberapa ratus meter, saya putar balik. Saya menyalip dan berhenti beberapa puluh meter di depan mereka, dan menunggu mereka lewat. Saat lewat, saya memberanikan diri bertanya dari dan mau ke mana. Berhenti sejenak, dua dari mereka memberi jawaban yang membuat saya terkejut: “Dari Tawangmangu, mengitari Gunung Lawu.”  Dengan santun mereka lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan. Saya berlari kecil mengejar: “Apa tidak singgah sejenak di warung bakso di seberang jalan itu?” tanya saya. “Terimakasih, maaf, kami lanjut saja.”  “Nanti bermalam di mana?” tanya saya lagi. “Kemungkinan di Masjid Jogorogo.” 

 

Jawaban terakhir itu melegakan saya. Sebenarnya saya ingin bertanya lebih jauh ihwal perjalanan mereka, sambil makan bakso. Tapi itu tak mungkin mengingat kaki-kaki itu terus saja melangkah, diselingi tongkat-tongkat yang mengeluarkan bunyi: tek-tok-tek-tok. Tapi tak apalah, toh nanti malam saya bisa menemui mereka di masjid Jogorogo. Di saat istirahat itu saya berharap bisa bertanya-tanya tentang “perjalanan” mereka: untuk sebuah ritual apa mereka mengelilingi Lawu? Saya lalu lanjut ke Sine.

 

Di Sine, memasuki pusat kota kecamatan, lagi, saya dihadapkan dua pilihan: ke kiri, arah Karanganyar. Jika lurus dan serong kanan, ke Sragen. Sejenak kemudian, saya memilih arah Karanganyar via Wonosari. Keluar dari Sine, jalan menurun curam dan berkelok, dengan pemandangan sungai dan sawah yang menghampar luas berlatar Gunung Lawu. Saya belum salat Asar, namun masjid sulit ditemui, tidak seperti di kawasan Jawa Timur bagian timur yang relatif mudah menemukannya.     

 

Saya akhirnya menemukan masjid di Pocol, Sine, dan ngasaran di situ. Lalu melanjutkan perjalanan. Setelah bertanya ke salah satu warga setempat, saya ambil jalan pintas menuju Karanganyar -tidak lewat Wonosari, tapi kawasan perbukitan dan hutan karet, melewati Desa Lempong dan berujung di tugu pertigaan Desa Balong Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Saya lalu belok kiri, menanjak, arah Kemunging-Tawangmangu. Langit sudah menghitam, gelap. Di terminal Balong saya berhenti di warung angkringan. Kawasan Kecamatan Jenawi baru saja diguyur hujan, dan masih menyisakan gerimis. Sambil menyantap nasi kucing, tempe kemul dan segelas teh panas, saya berbincang dengan pemilik warung. Saat saya bertanya arah pulang ke Sine, saya disarankan melewati Wonosari. Setelah sekitar satu jam di ngangkring melepas penat, saya melanjutkan perjalanan pulang ke Ngawi.

 

Dari Terminal, saya tetap mengambil arah Kemuning-Tawangmangu. Jalanan terus menanjak. Hingga di pertigaan entah apa, saya belok kiri melewati Desa Trengguli dan Desa Anggrasmanis di Kecamatan Jenawi, lalu memasuki Desa Wonosari tembus Desa Pocol dan Sine Kabupaten Ngawi. Kawasan yang saya lalui berbukit-bukit, berkelok tajam, naik-turun curam, di ketinggian kisaran 1000-1500 mdpl. Di malam yang dingin dan sunyi itu, hanya satu dua orang yang lalu melintas. Sungguh suasana pegunungan begitu pekat.

 

Memasuki Jogorogo, saya langsung mencari masjid di sekitar situ. Setelah tanya sana-sini, saya menuju masjid Jogorogo. Kebetulan ada tiga pengurus takmir yang sedang berbincang di serambi. Saya tanya perihal keberadaan serombongan orang pejalan kaki mengelilingi Lawu, mereka menjawab tidak tahu. Saya lalu ke warung, memesan mi rebus dan segelas teh panas. Setelah badan terasa lebih hangat, saya bergerak lagi mencari keberadaan orang-orang Lawu tadi. Dari pertigaan Jogorogo, saya ambil arah Kendal-Magetan. Beberapa kilometer, saya menemukan mereka. Saya tak menyapa mereka, melainkan berhenti di sebuah langgar kecil yang gelap, menanti mereka lewat. Akhirnya momen yang saya tunggu tiba. Setelah sekian waktu lamanya, saya ikuti lagi jejak langkah mereka. Ternyata mereka berhenti di sebuah emperan toko kecil dan sudah merebahkan tubuhnya, bahkan sebagian sudah tertidur pulas, tanpa alas dan masih dengan pakaian lengkap. Saya memanfaatkan momen itu. Setelah uluk salam, saya berbincang dengan dua orang yang paling tua di antara mereka. Kami duduk di sela-sela kaki-kaki yang berselonjor rapi.

 

Saya tanya daerah asal mereka: dari Gondosuli, Tawangmangu. Tiap tahun, di bulan Suro, mereka mengelilingi Lawu, tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun, ungkapan rasa syukur telah dihidupi dari hasil pertanian di lereng Lawu, juga harapan agar diberi kesehatan dan rahayu sekeluarga: “Nyuwung dumateng Kang Moho Kuwaos supados sehat kaleh rahayu sak keluargane”. Saat saya bertanya adakah kitab yang memuat ajaran terkait ritual itu? Mereka menggelengkan kepala: “Mboten wonten kitabe, nggeh namung nderek lampahe mbah-mbah rumiyen.” Mereka mengaku hanya mengikuti lelampahan orang-orang terdahulu, “khususipun Sunan Lawu”, “Kaleh belajar laku sabar, ” ujar Pak Sugiman.

 

Mereka berangkat dari Gondosuli pada hari Jumat Pahing jam 1 pagi. Sudah 20 jam mereka berjalan kaki, dan telah menempuh sepertiga perjalanan. Rute yang mereka lalui berikutnya ialah Kendal, Panekan, Magetan, Plaosan, Sarangan, Cemoro Sewu, dan akan berakhir di Gondosuli pada Minggu pagi. Seluruhnya menempuh waktu dua hari tiga malam. Mereka membawa bekal nasi dan lauk pauk sejak dari rumah, dibungkus rapat sehingga mampu bertahan dua hari. Hawa dingin kawasan Lawu turut membantu mengawetkan makanan. Mungkin karena itu, ketika saya tawari bakso, mereka menolak. “Monggo menawi teng Tawangmangu pinarak teng Gondosuli,” kata Pak Sugiman sambil memberikan alamat rumahnya, juga Mbah Taman. Usia keduanya kisaran 60-70 tahun. Mereka petani sayur –wortel, kubis, bawang, kentang. Dari Pak Sugiman, saya memperoleh informasi bahwa rombongan pejalan kaki ternyata tidak hanya dari Gondosuli, tetapi ada juga dari Blumbang, Dewang, Matesih, dan lain-lain di Kecamatan Tawangmangu. Saya lalu pamit pulang, kembali ke Paron, berjarak sekitar 20 kilometer dari tempat mereka beristirahat.

 

Esoknya, jam 9 pagi, penasaran, saya berangkat lagi, melacak jejak rombongan para pejalan kaki semalam. Baru saja belok kiri ke arah Kendal-Magetan dari pertigaan Jogorogo, saya menjumpai satu rombongan pejalan kaki. Saya tidak langsung menghampiri, namun mengikutinya dari belakang, berjarak sekitar lima puluh meter. Salah satu di antara mereka berjalan pincang, bahkan terbungkuk-bungkuk. Jarak seratus meter berjalan, mereka berhenti. Salah satu di antara rombongan memijat-mijat kaki si pincang. Lalu berusaha berjalan lagi, namun sekitar lima puluh meter berhenti lagi, memijat kaki si bungkuk. Ternyata orang yang berjalan pincang menderita sakit saraf kejepit, dan kambuh sudah sejak sebelum berangkat. Namun, orang yang kemudian saya tahu namanya Mbah Slamet itu bersikeras tetap berjalan kaki mengelilingi Lawu. Saya menawarkan untuk memboncengnya, bahkan jika berkenan saya siap mengantarnya pulang ke Tawangmangu. Namun jawabannya mengejutkan: “Matursuwun, Mas. Mboten usah, kersane kulo mlampah mawon.” Ia memaksakan diri untuk berjalan, dan teman-temannya menguatkan dan akan menemaninya hingga titik akhir di Tawangmangu nanti.

 

Saya tak putus asa dan menawarkan mencarikan apa yang mungkin mereka butuhkan. “Menawi njenengan panggih toko jamu, njenengan tumbasne Nyonya Meneer, pegal linu.” Tanpa pikir panjang saya menggangguk dan berangkat mencari toko jamu. Setelah keliling di seputaran Jogorogo, hingga memasuki lorong-lorong pasar, saya tak menemukan toko jamu yang buka sepagi itu. Lazimnya toko jamu buka sore hingga malam. Saya kembali lagi menemui para pejalan kaki itu, mereka sudah sudah bergeser dari tempat tadi, sekitar dua ratus meteran. Mereka sangat berterimakasih ketika saya menyampaikan permohonan maaf tidak menemukan toko jamu yang buka. Tapi saya masih ingin berbuat sesuatu untuk mereka, dan menawarkan apakah mau obat-obatan apotek. Mereka mengangguk: “Pokoknya obat kecetit, Mas.” Saya cari apotek, membeli obat yang dimaksud, dan saya tambahkan koyo. Kembali saya menemui mereka. Saya menolak ketika salah seorang memaksa saya untuk menerima uang pengganti. Mbah Slamet tiba-tiba menarik tangan saya mendekat dan saya dirangkulnya. Ia memperkenalkan nama dan statusnya sebagai tetua di rombingan itu, lalu membacakan doa-doa dalam Bahasa Jawa yang saya tak begitu mengerti. Di antara kalimat yang saya tangkap dengan jelas, ia menyebutkan namanya dan mendoakan semoga saya mendapat berkah Sunan Lawu Brojoyo (Brawijaya). “Nggriyo kulo Blumbang, monggo menawi teng Blumbang tanglet nami kulo, tiyang Blumbang sami sumerap,” ujarnya. “Panjenengan pundi?,” tanyanya. “Kulo Paron,” jawab saya, sambil memberikan alamat di Paron. “Mangke kulo padosi panjengenan teng Paron, kersane dados sederekan.” Saya mengangguk dan mengucap terimakasih.

  

Saya meninggalkan mereka, melajukan motor ke arah Kendal-Magetan. Saya mencari rombongan orang-orang Gondosuli yang saya temui semalam. Setelah melewati Kendal dan memasuki Panekan, Magetan, saya menemukan dua pemuda yang merebahkan diri di rerumputan pinggir jalan. Mereka juga pejalan kaki, membawa tas rangsel dan tongkat. Mereka orang Matesih. Dari mereka saya tahu para pejalan kaki bukan hanya dari Gondosuli, melainkan dari beberapa desa di Tawangmangu. Terbanyak memang dari Gondosuli. Dari keduanya saya dapat kabar jika malam nanti semua pejalan kaki bertemu di Plaosan, dan esok paginya jalan bareng pulang ke Tawangmangu. Sebentar kami berbincang, mereka pamit melanjutkan perjalanan. Penasaran mencari rombongan dari Gondosuli, saya terus ke Magetan. Namun, hingga memasuki jalan lingkar Magetan, saya tak menemukan mereka.

 

Sebelum ke Plaosan, saya memilih belok kiri menuju kota Magetan, kota yang berada di kaki Gunung Lawu. Kota ini cukup tenang, lengang, dan berhawa sejuk. Setelah mampir ngopi sejenak, saya bergerak ke makam Eyang Ronggo Galih di Desa Durenan Magetan -salah satu tokoh penting dalam sejarah Magetan. Beliau menjabat bupati Magetan periode kedua, 1703-1709, dan merupakan bangwasan Kerajaan Mataram. Saya bertemu juru kunci makam, Mbah Bardi. Saat ditanya dari mana, saya jawab: Ngawi. Mbah Bardi bercerita di Jeruk Gulung, Patalan, Ngawi, ada keluarga pembabat desa yang merupakan keturunan Eyang Ronggo Galih. Jeruk Gulung, yang saya tahu, ialah dusun di pedalaman Alas Ketonggo yang terkenal wingit.

 

Terletak di perbukitan, makam Eyang Ronggo Galih menjadi salah satu tempat yang ramai diziarahi, terutama saat bulan Suro atau Muharam. Kompleks makam ini tampak megah. Ada satu gapura pintu masuk ke kompleks makam ini sebelum memasuki area parkiran yang luas. Ada beberapa anak tangga menuju gerbang makam dengan patung Ronggo Galih dan Harimau di sisi kanan-kiri tangga. Sebelum gerbang, di kanan-kiri terdapat pendopo tempat istirahat para peziarah. Di pendopo sisi kiri, beberapa wayang kulit dalam pigura dipasang berjajar di dinding. Juga lukisan wanita berkebaya dan mahkota terbuat dari emas –mungkin Nyi Roro Kidul. Ada pula foto makam Eyang Ronggo Galih diselimuti kabut gelap dengan kepsyen (baca: caption) yang menunjukkan kekeramatan Eyang Ronggo. Setelah memasuki gerbang, terdapat beberapa makam di kanan-kiri sebelum menuju makam utama, makam Eyang Ronggo Galih. Kompleks makam ini berhawa sejuk, dinaungi pohon-pohon jati tua berukuran besar. Bau dupa terasa menyengat di area makam.

 

Makam Eyang Ronggo Galih kini menjadi salah satu situs wisata religi di Magetan. Umumnya para peziarah dari kalangan Kejawen. Sebelas tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya saya ke sini, ada keprihatinan dari sejumlah kerabat keturunan Eyang Ronggo Galih berlatar santri yang sedang berziarah terkait kentalnya nuansa Kejawen di makam ini. Keluarga ini mengatakan bahwa Eyang Ronggo Galih sejatinya berlatar belakang santri. Makamnya pun dulu sederhana, seperti makam pada umumnya. Entah kenapa makam itu kini banyak dihiasi ornamen-ornamen yang merepresentasikan simbolisme Kejawen. Dan, memang, makam ini kini identik dengan identitas Kejawen. Namun begitu, sebuah langgar kini dibangun di ujung kanan sebelum memasuki gerbang makam. Ada pula himbauan tertulis di sebuah papan bahwa peziarah harus berwudu dulu dan dalam keadaan suci untuk memasuki makam. Seperti di beberapa situs makam lainnya, makam Eyang Ronggo Galih, meski tak tampak di permukaan, menyimpan pergulatan identitas santri-abangan. 

 

Saya beranjak dari situ usai menghabiskan suguhan segelas kopi. Tujuan berikutnya ke Pasar Plaosan, sebagaimana informasi dari dua pemuda yang saya temui di Panekan tadi. Di pasar Plaosan, saya justru kebingungan mencari titik kumpul para pejalan kaki. Pasar sayur itu sangat ramai. Pembeli dan pedagang berseliweran, hilir-mudik, juga truk dan pikap yang menaik-turunkan aneka sayuran berupa kentang, wortel, bawang dan lain-lain. Sepeda saya parkir, lalu berjalan mengelilingi pasar, masuk ke lorong-lorong sempit, namun tak menemukan para pejalan kaki. Setelah tanya sana-sini tak ada orang yang tahu, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah Tawangwangu, ingin tahu di mana Gondosuli, juga Blumbang, desa asal sebagian besar pejalan kaki.

 

Jalanan terus menanjak dan berkelok melewati Sarangan, Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, hingga Gondosuli. Di sepanjang rute dari Sarangan hingga Gondosuli diliputi kabut tebal dan hujan gerimis. Di kawasan Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang jarak pandang bahkan hanya 10-15 meter. Tengah hari serasa menjelang malam. Hawa dingin menyergap. Jalanan di siang itu padat merayap, dipenuhi mobil-mobil mewah dari pelbagai kota, juga kendaraan bermotor. Banyak destinasi wisata memang di kawasan itu. Saya membayangkan betapa para pejalan kaki akan berebut jalan dengan para pelancong.

 

Memasuki Gondosuli, desa di lereng Gunung Lawu ini, hamparan tanaman sayur –bawang putih, bawang merah, kol dan wortel- membentang luas, dengan tingkat kemiringan lahan ada yang cukup ekstrem. Masyarakat Gondosuli menggantungkan ekonominya pada pertanian di lahan dataran tinggi yang memang cocok untuk tanaman sayur. Saya mencari gereja yang disebutkan Pak Sugiman semalam. Di Gondosuli, selain gereja, saya juga melihat beberapa papan nama MTA dan juga LDII, dua organisasi Islam yang berbasis di Surakarta dan Kediri.

 

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya saya menemukan rumah Pak Sugiman, letaknya berseberangan dengan gereja. Saya mengetuk pintu, dan tak lama seorang laki-laki usia lima puluhan membukanya. Dia menantu Pak Sugiman. Setelah saya menceritakan pertemuan saya dengan Pak Sugiman, dia bercerita jika kemungkinan besok (Minggu) pagi mertuanya baru sampai rumah. Kami berbincang soal tradisi tahunan di bulan Suro itu, namun tak banyak yang dia tahu soal ritual itu. Hanya saja, katanya, ritual itu sudah berlangsung turun-temurun, tradisi meruwat Lawu. Dia menawarkan saya untuk ikut keliling Lawu  di tahun depan. Tak kuat hawa dingin, serasa kaki menginjak balok es, saya pamit pulang.

 

Perjalanan pulang, saya melewati Tawangmangu-Kemuning di Kabupaten Karanganyar, melewati Kabupaten Sragen, hingga Sine-Jogorogo dan berakhir di Paron, Ngawi. Kawasan dari Sarangan Magetan hingga Kemuning penuh dengan ragam destinasi wisata alam. Banyak hotel, vila, resto dan tempat hiburan di kawasan ini. Terutama di Tawangmangu, jalanan sangat padat. Pelbagai jenis kendaraan dari sepeda motor, mobil, truk, pikap hingga bus berjalan merayap naik-turun ke dan dari Lawu. Sore hari saya sampai Paron. Total jarak tempuh perjalanan mengelilingi Lawu hari itu sekitar seratus lima puluhan kilometer dengan pelbagai medan jalan -dari yang landai hingga tanjakan curam, dari jalanan aspal, cor, hingga makadam, dari cuaca panas hingga cuaca dingin berkabut dan berselimut hujan.

 

***

Tentang orang-orang Lawu itu, saya tersentak dan tersipu malu mendengar jawaban “Mboten wonten kitabe”. Saya tersadar, pertanyaan saya merupakan ekspresi orang yang tumbuh dalam tradisi tulis, sebagaimana lazimnya berlaku pada agama-agama samawi. Yang saya tanyakan tak lain ialah: “Laku berjalan kaki mengitari Lawu ini, adakah rujukan dalam kitab suci mereka?” Dengan pertanyaan itu, saya agaknya memaksakan perspektif saya, cara pandang yang terbingkai oleh otoritas kitab suci. Ini mengingatkan saya pada jawaban Mbah Wo Kucing, julukan untuk Kasni Gunopati, sesepuh warok Ponorogo, ketika ditanya apa yang menuntun laku hidupnya seperti dikutip Bisri Effendy: “Kitab itu ya diriku ini.”[ii] Ya, kitab suci para pejalan kaki itu ialah laku hidup yang diteladankan Sunan Lawu. 

 

Para pejalan kaki Lawu adalah kisah tentang perjalanan meruwat gunung oleh para petani yang hidup dari lahan pertanian di lereng Lawu yang subur, orang-orang yang berhubungan secara langsung dengan daya-daya alam –alam yang belum dikacaukan oleh teknik, lalu lintas dan turisme. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dari pengakuan Mbah Slamet, pimpinan rombongan, mereka keturunan Mbah Sunan Lawu-Brawijaya. Alkisah, akibat peperangan dengan Kerajaan Demak, Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V, menyingkir dan menyepi ke Gunung Lawu dengan ditemani pengikutnya, Sabdo Palon dan dua abdi dalem lurah yang berasal dari kaku Gunung Lawu, Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Dua nama terakhir ini dikenal juga dengan nama Sunan Lawu dan Kiai Jalak. Sunan Lawu inilah yang menjadi leluhur para pejalan kaki itu. Sebelum moksa di puncak Lawu, Sang Prabu konon meninggalkan segala jubah kebesarannya di Srigati, situs yang berada di kawasan Alas Ketonggo, Ngawi -satu dari dua alas (hutan) Jawa yang paling keramat dan dikenal angker selain Alas Purwo di Banyuwangi.[iii] Di pedalaman Alas Ketonggo inilah Dusun Jeruk Gulung berada, dusun yang konon dibabat oleh salah satu keturunan Eyang Ronggogalih. Tentu tak sembarang orang yang sanggup membuka Alas Ketonggo. 

 

Mereka petani sayur di tanah pegunungan Lawu yang subur. Selain untuk lahan pertanian, Lawu juga menjadi tempat bersemainya ekosistem yang mempertemukan iklim kering di sisi timur dan iklim basah di sisi barat. Karenanya, Lawu sangat kaya dengan keanekaragaman hayati.[iv] Bukan hanya kekayaan hayati, Lawu juga memiliki kekayaan mitologi dan praktik-praktik ritual yang masih lestari hingga kini. Selain kisah tentang moksanya Prabu Brawijaya V, Sabdo Palon, Sunan Lawu dan Kiai Jalak, juga berkembang cerita-cerita berselubung mistis seperti cerita tentang Jalak Gading, cerita kupu bersayap hitam bulatan biru, cerita tentang pasar setan, cerita pantangan memakai baju warna hijau, cerita larangan pendaki berjumlah ganjil, cerita sendang-sendang dan puncak Lawu. Gunung Lawu juga memiliki banyak situs keramat dan bernilai historis tinggi, seperti tiga titik puncaknya –Gardo Dalem (tempat moksanya Prabu Brawijaya V), Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah-, Candi Sukuh dan Candi Cetho, Sendang-sendang (Sendang Panguripan, Sendang Inten, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan). Ritual tradisi juga beragam, dan terutama dipusatkan di Sumur Jalatunda dan Sendang Drajat ketika memasuki bulan Suro.[v]

 

Gunung menjadi bagian sangat penting bagi orang-orang Lawu, bahkan bagi “orang-orang Jawa”. Wayang, seni tradisi Jawa, menjadikan gunung (baca: gunungan atau kayon) sebagai pralambang yang menggambarkan kesatuan kehidupan manusia dengan alam. Ia juga disebut pohon hayat, pohon kehidupan. Gunungan (tumpeng yang dibuat mengerucut menyerupai gunung) juga menjadi pralambang penting dalam upacara Gerebek di pusat-pusat peradaban Jawa: Yogyakarta dan Surakarta. Apapun, gunungan, dalam budaya Jawa pra Islam, mengacu pada satu konsep dasar: gunung sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang atau tempat tinggal para dewa. Islam, tak kalah penting, menyebut gunung sebagai pasak bumi, penyangga bumi atau pikukuhing jagad.[vi]

 

Apakah gunung akan tetap berfungsi sebagai pohon kehidupan atau pikukuhing jagad? Menjadi tanda tanya besar. Gunung Lawu kini sudah tak lagi kokoh, pun ia tak cukup bisa menaungi kehidupan. Roh-roh nenek moyang orang-orang Lawu, juga para dewa, mungkin sudah tak betah tinggal di puncak Lawu. Puncak Lawu sudah sangat berisik oleh para pendaki. Lereng dan kakinya sudah compang-camping oleh pembangunan hotel, vila dan wahana-wahana bermain dan wisata. Pelan namun pasti Lawu mengalami proses demitologisasi, deforestasi. Meski begitu mereka, para pejalan kaki itu, tetap berusaha menjaga warisan spiritual Lawu. Namun orang-orang pegunungan itu lebih mirip para gelandangan ketimbang sebagai pewaris sah Simbah Sunan Lawu. Mereka berjalan kaki di tengah lalu lintas orang menggunakan kendaraan, menjadi liyan di tanah air mereka sendiri. Sungguh pemandangan yang kontras, dan tentu saja, ironi. Dan saya menjadi saksi bisu kontras itu.


Penulis: M. Ardiansyah


[i] https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/32519bded10784c/jumlah-penduduk-kabupaten-ngawi-905-66-ribu-jiwa-data-per-2024.

[ii] Bisri Effendy, Kitab Kehidupan (Yogyakarta: IRCISoD, 2022), hal. 116.

[iii] Sekilas tentang Alas Ketonggo Srigati ini, lihat Alwida Ardyanti, Hendrisa Rizqie, dkk., “Mengulas Filososfi Alas Ketonggo Srigati (Petilasan Prabu Brawijaya V) di Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi”, dalam Jurnal INNOVATIVE Vol. 2 No. 1 Tahun 2022.

[iv] Beberapa tuisan terkait keanekaragaman hayati di Gunung Lawu, lihat Penyelamatan Ekosistem Gunung Lawu Berbasis Budaya: Prosiding Seminar Nasional dan Pentas Budaya Sabuk Gunung Lawu Untuk Konservasi Lingkungan, (Surakarta: Penerbit Studi Biodiversitas Program Studi Biologi FMIPA UNS, 2018).

[v] Teguh Supriyanto, “Cerita Mitos Gunung Lawu Dalam Masyarakat Jawa”, dalam Prosiding Seminar Nasional dan Pentas Budaya Sabuk Gunung Lawu Untuk Konservasi Lingkungan, (Surakarta: Penerbit Studi Biodiversitas Program Studi Biologi FMIPA UNS, 2018).

[vi] Muhajirin, “Dari Pohon Hayat Sampai Gunungan Wayang (Sebuah Fenomena Transformasi Budaya)”, dalam IMAJI: Jurnal  Seni dan Pendidikan Seni, Vol. 8, No. 1, Februari 2010.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama